Anda semua pasti pernah mendengar pepatah “Ikuti saja apa yang dikatakan naluri Anda,” atau “Jangan memikirkan situasi secara berlebihan.” Sudah banyak terjadi dalam sejarah di mana terlalu banyak memikirkan keputusan hanya akan berakhir pada hasil yang buruk atau malah hanya membuat peluang terlewatkan.

Pada Turnamen Golf terbuka Inggris tahun 1999,  Jean van de Velde bermain dengan sempurna sepanjang turnamen dan mendekati lubang terakhir di hari terakhir dengan keunggulan 3 pukulan. Dia bisa saja mendapatkan double bogey dan tetap memenangkan turnamen; sebuah pencapaian  besar untuk pemain golf profesional. Apa yang terjadi selanjutnya menjadi salah satu krisis paling terkenal dalam sejarah olahraga. Ketika van de Velde mendekati tee untuk pukulan pertamanya, tampak jelas bahwa dia gugup dengan butiran-butiran keringat yang mulai terbentuk di dahinya. Dia melakukan pukulan pertamanya seperti seorang pemula dan bola berlayar 200 meter dari lubang. Setiap pukulan berikutnya, van de Velde menjadi semakin kebingungan dengan pukulan bola ke rumput tinggi lalu kemudian ke dalam air. Akhirnya van de Velde menyelesaikan lubang dengan triple bogey dan kehilangan apa yang seharusnya menjadi peluang mudah pada kemenangan turnamen besar.

Pada 1980-an, sebuah eksperimen dilakukan oleh Consumer Reports secara acak pada tiga kelompok penguji rasa. Dua kelompok pertama diberi sampel jeli stroberi yang berbeda dan diminta untuk menilai kesukaan mereka. Hasilnya hampir identik. Namun pada kelompok ketiga, pencicip diminta untuk menuliskan alasan mereka menyukai atau tidak menyukai setiap jeli. Hasil akhirnya benar-benar berbeda dari dua yang pertama, kadang-kadang beberapa peringkat favorit sebelumnya menjadi peringkat yang terburuk.

Intinya, jika Anda terlalu banyak berpikir, Anda memutuskan pikiran Anda dari kebijaksanaan naluriah Anda. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan kapan seharusnya Anda mendengarkan kepala Anda dan kapan Anda mendengarkan naluri Anda? Aturan umum seharusnya: Jika itu adalah kegiatan praktikal seperti memainkan instrumen, keterampilan motorik halus (seperti mengendarai mobil atau mengayunkan tongkat golf), atau menjawab pertanyaan yang telah Anda jawab ribuan kali sebelumnya, sebaiknya jangan merefleksikan ke detail terakhir. Ini bertentangan dengan kemampuan intuitif Anda untuk melakukan tugas.

Namun, dengan keputusan yang lebih kompleks seperti investasi atau perdagangan, diperlukan pikiran yang netral dan jernih, dengan strategi yang dipikirkan secara matang. Evolusi tidak memperlengkapi kita untuk membuat keputusan semacam ini, sehingga dalam trading, logika lebih penting daripada intuisi. Saya telah bertemu dengan beberapa orang yang disebut sebagai “ahli trader”, mereka menolak menggunakan strategi atau membuat grafik yang terlalu rumit dengan berbagai indikator. Mereka bertindak hanya dengan menggunakan “insting” mereka dan dengan menonton pergerakan pasar. Bersikaplah skeptis terhadap siapa pun yang memberi tahu Anda akan hal ini. Seorang trader dan investor jangka panjang yang sukses selalu memiliki seperangkat aturan atau prinsip yang jelas untuk memandu mereka dalam mengambil keputusan.vvvv